Minggu, 30 Oktober 2011

Tak Berarti

Seminggu ini tak ada kejadian berarti dalam hari-hariku. Hal yang diluar kebiasaan hanya di mintai tolong kakak untuk mengantar anak-anaknya potong rambut. Nadya (15 th) dan Nina (8 th) adalah dua keponakanku yang dekat denganku selain Rangga (4,5 th). Keduanya memang sering jalan denganku, dari ganti kaca-mata sampai potong rambut memang selalu denganku. Entah kenapa Ibu mereka tidak mau mengantar. 
Tak ada lagi rutinitas yang lain, tapi ada satu hal yang aku ingat selama beberapa hari ini adalah ketika aku dikirimi sebuah Doa untuk melupakan orang yang kita cintai karena dia telah menikah atau memiliki tambatan hati lain.Sayangnya doanya sudah terhapus. Doa itu dibrikan ketika aku sedang bertanya masalah yang dihadapi oleh mantan orang yang kucintai. Mungkin perhatianku sedikit disalah artikan olehnya. Mungkin dia fikir Cinta itu masih ada. Hehehe... Lucu, tapi itulah aku, bahkan oleh orang yang telah melukai hatikupun aku masih perduli. 
Saat kutulis ini aku sedang duduk sendirian di kantor hanya ditemani ikan di akuarium dan dua buah wanita (kusebuat buah karena mereka adalah patung yang biasa dipajang di toko pakaian). Sendiri disini membuatku sedikit tenang jauh dari rumah yang selalu membuatku merasa bersalah. Entah kenapa... Mungkin karena beberapa hari ini Ibu selalu memberikanku nasehat-nasehat, beberapa hari ini selalu saja ada yang salah. Sepertinya ada sesuatu yang jadi pikiran beliau, mungkin juga tentang aku. 
Kenapa aku jadi merasa bersalah ya??? 

Selasa, 18 Oktober 2011

APAKAH?

Assalamu'alaikum.

Hari ini dilalui dengan berat. Tidak tau kenapa, padahal pekerjaan tidak terlalu banyak. Di tugaskan Ibu Bos membuat proposal, tak terlalu sulit buat saya sebenarnya. Pulang sampai sore karena harus memberi bimbel anak-anak.. Beberapa hari ini memang perasaan agak berbeda karena diingatkan kembali bahwa saya "belum berkeluarga".
Di awali hari minggu, Ibu saya mengunjungi adiknya di Teluk Dalam. Beliau pulang dengan membawa secarik kertas berisi tulisan Arab. Kata beliau saya harus membacanya sebanyak tujuh kali setiap selesai Sholat. Saya tanya untuk apa, jawab beliau agar saya segera menemukan jodoh. Awalnya saya anggap lucu tapi demi beliau saya turuti saja.
Dan itu yang membuat hati ini tak tenang kembali. Sebelumnya saya sudah bisa ikhlas menerima bahwa memang mungkin belum datang waktu yg tepat buat saya menikah Saya sudah tak menyalahkan orang-orang yang menyakiti saya atas keterlambatan ini. Saya paham bahwa ini semua sudah GarisNYA.
Saya bukan tidak menyadari bahwa Allah sudah menunjukkan kepada saya beberapa Laki-laki. Tapi apa lantas saya tak boleh memilih, memilih yang terbaik buat hidup saya dan Ibu saya. Apa lantas saya menerima begitu saja laki-laki yang dipikirannya hanya ada pikiran-pikiran kotor tentang saya? Yang menginginkan saya lebih sebagai Istrinya padahal kami belum halal satu sama lain? Yang mampu membuat saya merasakan Patah Hati yang sebenarnya?
Atau saya harus menerima laki-laki cabul yang ketika pertama bertemu sudah ingin memegang tangan saya?
Atau saya harus menerima laki-laki yang terlalu bergantung dengan Ibunya, kekanak-kanakan dan tak bisa hidup mandiri?
Atau saya harus menerima laki-laki penjual bakso keliling yang sama sekali saya tak tau wajahnya dan amat sangat baik pada saya, lelaki soleh yang telah berhasil membuat saya tau apa itu Cinta, yang menyadarkan saya bahwa jangan takut tak punya karena kita punya DIA. Yang kata Ibu saya tak baik untuk saya? Ibu yang berkata bahwa saya tak boleh bersamanya? Apa lantas saya harus durhaka hanya demi Cinta dan keyakinan saya bahwa sesungguhnya mungkin dia yang ditunjukkan Allah sebenarnya?
Apakah saya salah?? Memilih yang benar??? Atau kah saya salah menganggap itu benar untuk saya??? Saya hanya manusia biasa, yang takut akan dahsyatnya Cinta, kesengsaraan, kedzoliman. Saya hidup dengan seorang Ibu yang kini bergantung pada kehidupan saya.
Apakah saya salah mementingkan kebahagian Ibu saya???
Sedih kalau ada yang berfikir saya tak tau bahwa Allah sudah menunjukkannya pada saya. Tapi apakah benar seperti itu???? Apakah diantara mereka memang seharusnya "dia". Atau kah Allah masih menyimpan yang terbaik untuk saya??? Pada waktunya nanti.... Hanya Allah yang tau.
Saya hanya berusaha dengan sebaiknya dan semampu saya menjalani hidup ini. Saya bersabar dan percaya.Ada dia disana, menanti saya, di waktu yang tepat nantinya....

Wassalamu'alaikum